Setiap kegiatan sehari-hari kita tidak terlepas dari kegiatan ekonomi. Kita bekerja untuk mendapatkan uang yang akan kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Tak jarang gaji yang kita dapatkan tidak cukup untuk kebutuhan kita. Alih-alih memilih mengutamakan apa yang kita butuhkan, malah tergiur memilih apa yang kita inginkan. Kurangnya kesadaran diri terhadap kebutuhan dan keinginan menyebabkan seseorang mengalami kesulitan dalam keuangannya.
Jika dalam kondisi seperti itu maka akan sulit mencapai financial freedom / kebebasan keuangan. Financial freedom itu apa sih? Apakah seseorang yang memiliki rumah, memiliki mobil, bisa disebut financial freedom? No, tidak seperti itu ya readers. Kita tidak bisa menilai seseorang sudah mencapai financial freedom dari harta yang dimiliki atau dari harta benda yang terlihat. Karena bisa jadi mereka memiliki cicilan yang harus mereka tanggung selama hidupnya. Kita tidak pernah tau.
Financial freedom menurut Karvof adalah kondisi dimana pendapatan pasif melebihi pendapatan aktif atau melebihi pengeluaran pada suatu periode waktu tertentu, sedangkan pendapatan pasif diartikan sebagai pendapatan yang diterima walaupun orang tersebut tidak bekerja atau beraktifitas.
Cara mencapai finansial freedom, kita harus pintar-pintar mengatur perencanaan keuangan. Dalam mengatur keuangan kita diharuskan memiliki harta produktif dimana harta tersebut akan terus memberikan keuntungan atau profit kepada kita. Jenis harta produktif yaitu investasi di pasar modal, rumah, emas, tanah, dll. Setelah memiliki harta produktif, maka kita harus mengatur pengeluaran, utamakan membayar cicilan utang, premi asuransi, kemudian biaya hidup. Selanjutnya, sisihkan untuk masa depan dan dana untuk memproteksi kita seperti asuransi dan dana cadangan. Pentingnya dana cadangan sebagai proteksi jangka pendek kalau kehilangan penghasilan dan tidak mendapatkan uang pesangon, atau kalau uang pesangon sangat kecil.
Selain mengatur perencanaan keuangan, dalam mencapai financial freedom juga membutuhkan motivasi. Ketika seseorang yang memiliki keuangan yang sulit kemudian mendapatkan motivasi untuk memperbaiki keuangannya agar lebih baik, maka mereka akan membuat perencanaan keuangan dengan sungguh-sungguh dan lebih disiplin dalam mengatur keuangannya. Menurut Hazembuller dan Wilson dalam penelitiannya menemukan factor motivasi turut mempengaruhi persepsi orang untuk tidak berperilaku boros. Efektifnya yaitu akan meningkatkan peluang untuk memperbaiki kondisi keuangannya. Motivasi juga disebut sebagai predictor bagi pengembangan diri yang ditujukan pada keuangan. Jika seseorang sudah dibekali dengan literasi keuangan dan sudah mengetahui pentingnya membuat keputusan yang baik untuk keungannya. Tetapi, seringkali pemahamannya tersebut bersifat kontemporer sehingga seiring berjalannya waktu orang tersebut akan kembali pada perilaku keuangan yang keliru. Guna mencegah hal tersebut, maka perlu diberikan motivasi untuk mendorong meningkatkan literasi keuangan agar pemahamannya mengenai literasi keuangan menjadi relatif permanen.
Menurut penulis, 2 point di atas yaitu perencanaan keuangan dan motivasi adalah hal paling dasar yang perlu dilakukan untuk mencapai financial freedom. Perencanaan keuangan agar lebih mudah melakukannya bisa membuat pos harta produktif dan pengeluran. Motivasi, carilah motivator atau orang-orang yang melek financial untuk mendorong kita semangat belajar mengatur keuangan agar lebih terencana dan lebih cerdas membuat keputusan keungan. Salah satu rekomendasi youtuber yang dapat memberikan motivasi kita yaitu Raditya Dika, dia adalah orang dengan gaya hidup minimalis, beberapa kali kontennya membahas tentang literasi keuangan yang sangat bermanfaat.
Sumber:
Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis Vol 9 No. 1 Januari 2014 oleh Peter Garlans Sina

Tidak ada komentar:
Posting Komentar